Lost
.
.
.
.
.
.
.
Story © Anna Febrianda and
Daisuki Menma
Inspiration by Our Best
Friend
.
.
.
.
.
.
.
Chapter
1: PERTEMUAN
.
.
.
.
.
ENJOY!
READING…
.
.
.
.
.
Kisah yang takkan terlupakan
bagiku. Sekalipun aku ingin semua kenangan itu menghilang dari ingatanku.
Aku berharap jalan yang telah
aku pilih ini, takkan sia-sia. Ataupun menyesal karena aku telah memilihnya.
Aku selalu berdoa, semoga
kalian akan bahagia.
.
.
.
.
.
.
Pagi yang cerah dengan temperatur udara
yang cukup panas, dan segelintir orang yang terlihat kesibukannya ketika para
burung berseru senang. Orang-orang itu mempunyai alasan untuk mondar-mandir
berkeliling dari gedung utama hingga ke ruang kelas. Kini aku sedang menunggu
selembar kertas yang seharusnya telah tertempel pada sebuah papan yang berjudul
pengumuman sejak satu jam yang lalu.
Pada hari ini, seharusnya aku telah
mengetahui dimana kelas baruku setelah perjuangan kerasku yang berkutat dengan
buku yang sangat tebal. Setelah cukup lama menunggu, seorang guru berwajah
tegas menempelkan beberapa lembar kertas pada papan pengumuman yang berisi
daftar nama siswa kelas XI. Aku tak tahu seberapa menariknya guru itu sehingga
dia harus dikerumuni berpuluh bahkan beratus siswa yang mempunyai hasrat ingin
tahu itu.
Aku kini harus menunggu lagi hingga
papan pengumuman itu tidak lagi menjadi pusat perhatian para siswa. Setelah
kebahagiaan dan kesedihan para siswa yang telah melihat kelas baru mereka, aku
mencoba memberanikan diri melihat lembaran kertas yang terpampang di papan
pengumuman itu. Mataku menyapu dari daftar nama kelas XI.1. Hingga akhirnya, ketemu!
Itu namaku Haruko Kazumi pada nomor urut 16 dan selama setahun kedepan, aku
harus tinggal di kelas XI.4. Setelah mengetahui keberadaan kelasku, tak ada
lagi yang menarik di papan pengumuman ini. Sekarang, aku hanya harus menemukan
ruangan kelasku yang baru.
Ketika
aku memutar bahuku dan mulai melangkahkan kakiku, seorang lelaki membuatku
terpukau. Lelaki itu… berdiri tepat dibelakangku… tetapi, ekor matanya terfokus
pada papan pengumuman disana, bukan diriku yang tepat berdiri di hadapannya. Untuk
beberapa detik, aku terus menatap wajahnya yang terus memandangi papan pengumuman
tersebut. Jujur saja aku akui, lelaki itu… tampan. Lelaki itu memang tampan dengan
wajahnya yang rupawan, kulitnya putih, dan tinggi yang ideal. Kesan pertama
yang sungguh mengesankan. Dari hadapannya ini aku dapat melihat wajahnya yang
sangat fokus, matanya yang hitam legam menenangkan, rambutnya yang entah
mengapa begitu memukau disaat semilir angin lewat dan membuat rambut indahnya
itu melambai. Ah, andai saja jika tangannya yang melambai kepadaku, bukan hanya
rambutnya. Setelah aku mengagumi wajah rupawannya, aku menundukkan kepalaku dan
pergi menjauh dari tempatku berdiri.
.
.
Berjalan sendiri dengan gema sepatu yang
melantunkan melodi tersendiri bagiku, setidaknya tidak terjadi kesunyian di
sepanjang lorong ini. Tidak ada yang spesial dengan kelas baruku, hanya saja
sahabat terbaikku berada di kelas yang sama dengan diriku. Aku bersyukur karena
bisa memiliki teman mengobrol untuk setahun kedepan. Setelah menulis jadwal
mata pelajaran aku bergegas pulang. Tetapi keberuntungan memang tidak sedang
menyelimutiku hari ini. Aku harus pulang terlambat karena suatu hambatan yang
merepotkan. Seorang guru menyuruhku memberikan sebuah berkas ke kantor Kepala
Sekolah. Dimana ruangan tersebut ada di bangunan A sedangkan kelasku berada di
bangunan C, yang artinya ruangan tersebut jauh. Sangat jauh. Belum lagi aku
harus berjalan seorang diri di tengah-tengah lapangan serbaguna yang
kau-bisa-membayangkannya-sendiri.
Dari ekor mataku, hanya segelintir orang
yang masih berada di kawasan sekolah. Bahkan masih ada yang mempromosikan klub
mereka kepada anak kelas satu. Aku masih ingat, ketika dimana aku dikerubungi
begitu banyak senior dengan semangatnya yang membara untuk mempromosikan klub
mereka. Saat itu aku sampai kewalahan, dan untung saja ada dia. Sahabatku. Dan
sebagian tengah menunggu tumpangan untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di halte depan sekolah, aku
memilih menyendiri, duduk di pojok halte. Lagipula tidak ada yang kukenal.
Sepertinya mereka anak kelas satu. Pikiranku melayang, masih terngiang jelas rupa
wajah lelaki itu. Bibirku tanpa perintah, melengkung membuat senyum tipis
mengingatnya. Wajahnya, hidungnya yang mancung, dan postur tubuhnya yang tegap
itu. ‘Tidak!! Ku gelengkan kepalaku cepat, pikiranku akan kosong jika hanya
lelaki itu yang ku ingat hari ini’ kilahku dalam hati.
Tak lama sebuah bus berhenti dan
mengumumkan tujuannya. Aku lekas berdiri dan masuk ke dalam bus. Tidak sampai
setengah jam bus berhenti di sebuah halte yang tampak usang termakan usia. Aku
turun setelah memberi ongkos pada petugas bus.
Rumahku yang dikelilingi hamparan sawah dan
perkebunan, membuatku tak bosan tinggal disini. Bonusnya tidak terdapat
kebisingan para pengguna kendaraan. Sebuah desa yang asri dan aku bersyukur
tinggal disini. Ayahku seorang petani yang hebat, itu pendapatku, karena semua
yang dikerjakan ayahku dengan usaha dan tidak pernah mengeluh. Ayahku pernah
berkata, “Jadilah orang jujur dan tak pernah mengeluh menghadapi cobaan”. Itu
adalah kata-kata ayah yang selalu aku ingat dan aku gunakan sebagai kata-kata
penyemangat hidupku dalam menghadapi masalah. Ibuku adalah seorang yang ramah,
aku menyayanginya dan sangat menyayanginya. Ibuku adalah senyuman ayah, mereka
pasangan serasi walaupun terkadang ayah mengejek kebodohan ibu tentang
wawasannya yang sempit. Dan juga aku memiliki adik kembar laki-laki, Masahiko
dan Masahiro, kusebut mereka dengan si kembar yang nakal. Mereka kembar
identik, kukira meskipun mereka kembar sifat mereka akan berbeda karena mereka
adalah dua individu yang berbeda, yang sama hanyalah wajahnya. Tetapi sifat
mereka benar-benar kembar jahil, usil, dan menyebalkan. Aku tidak membenci
mereka, bagaimanapun mereka adalah adik kembarku.
“Aku pulang~” seruku seraya melepaskan
sepatu sekolahku. Aku mendengar sedikit kegaduhan dari dalam rumah, pasti si
kembar. Mereka tidak pernah diam sedetikpun kecuali ketika mereka sedang tertidur.
“Selamat datang, sayang. Masahiko, Masahiro, berhenti membuat rumah seperti
kapal pecah!” kata ibuku yang masih membawa sebuah penggorengan, sepertinya ibu
akan memasak sesuatu yang lezat. Aku naik kelantai dua dan masuk kekamarku yang
nyaman. Aku tidak sedang ingin mengajak si kembar berkelahi dengan menumbalkan
diriku yang ingin menonton televisi di ruang tengah. Aku tak tahu jika menunggu
papan pengumuman sampai membuatku pegal-pegal. Jadi yang kulakukan mengistirahatkan
tubuhku dengan berbaring diranjang sambil menunggu jam makan siang.
Ketika
aku memutar bahuku dan mulai melangkahkan kakiku, seorang lelaki membuatku
terpukau. Lelaki itu… berdiri tepat dibelakangku. Tetapi, ekor matanya terfokus
pada papan pengumuman disana, bukan diriku yang tepat berdiri di hadapannya.
Untuk beberapa detik, aku terus menatap wajahnya yang terus memandangi papan
pengumuman tersebut. Jujur saja aku akui, lelaki itu… tampan. Aku tidak mengerti kenapa aku terus
mengingat kejadian tadi pagi, kurasa kini pipiku mengeluarkan semburat merah.
Aku juga tidak mengerti perasaan yag sedang kurasakan ini. Ketika aku
berhadapan dengannya aku merasa gugup dan tak dapat mengontrol mataku yang
terus saja melihat wajahnya. Seketika aku tersadar dengan khayalanku, sebuah
suara menyadarkanku. “Haruko, saatnya makan siang sayang. Cepatlah turun!” ternyata
ibu memanggilku. “Iya, aku akan turun.”
“Bagaimana dengan kelas barumu?” ibu
bertanya sambil menyiapkan piring dimeja makan, tapi tidak kubiarkan ibu
menyiapkannya sendirian. Aku hanya tersenyum menanggapinya, dan mengatakan
tidak ada yang spesial dengan kelas baruku. Kecuali Satomi Senju yang berada di
kelas yang sama denganku lagi. Ayah datang dengan wajah letihnya, dia segera
menuju kemeja makan, mungkin ayah tak sabar ingin memakan masakan ibu yang
lezat. Belum sempat ayah menarik kursinya untuk duduk, ibu mengusir ayah
sebelum mendekati dapurnya yang bersih. Mungkin keberuntungan tidak bersamamu,
ayah. Ibu menyuruh ayah membersihkan badannya sebelum makan siang, aku hanya
tertawa menanggapi ekspresi lucu ayah karena mungkin ayah tak sabar mengisi
tenaganya lagi atau perutnya yang buncit itu. Dan si kembar telah duduk manis
dikursi mereka, wajah mereka sepertinya tidak sabar menyantap makan siang.
Dasar anak kecil.
Kali ini ibu memasak udang, kesukaan si
kembar, lihat! mereka berdua kembali ribut dengan mulut penuh dengan nasi,
memperebutkan udang goreng yang tinggal satu itu. Agar adil ibu membaginya
menjadi dua, adik kembarku memang lucu. Walaupun ibu telah membaginya, si
kembar tetap saja berseteru. Untuk kesekian kali ibu melerai mereka.
“Bagaimana dengan kelas barumu, Haru-chan?”
tanya ayah ketika makan siang selesai.
“Tidak ada yang spesial, dan aku kembali
bersama dengan Satomi.”
“Kau pasti senang karena sekelas dengan
temanmu lagi.”
Aku hanya tersenyum menjawabnya, memang
tidak ada yang spesial. Atau mungkin belum aku rasakan…
.
.
Bel sekolah berdentang dan menggema di
seluruh penjuru. Kapan terakhir kali aku mendengar bel itu dibunyikan? Mungkin
sudah sangat lama, ketika aku kelas satu. Sepertinya listrik dipadamkan, karena
tidak biasanya penjaga sekolah bersusah payah memukul bel itu. Jaman memang
semakin modern, bel saja telah tergantikan dengan bel otomatis yang telah
disetting sebelumnya melalui komputer.
Rasanya benar-benar lelah mendengar guru
sejarah berbicara panjang lebar di depan kelas. Aku duduk di sebelah Satomi.
Lagi-lagi dia tetap terlihat semangat. Aku ingin tahu apa yang membuatnya
bersemangat seperti itu. Pantas saja dia tidak merasa bosan ataupun mengantuk
tadi, dia sedang asik dengan dunianya sendiri. Membaca novel. Dia sangat suka
membaca, apapun yang membuatnya tertarik. Daripada aku mengganggunya, lebih
baik aku menyenderkan kepalaku diatas meja. Karena aku tidak mau berurusan
dengan macan yang sedang tidur disebelahku ini. Satomi akan seperti seekor
macan yang kelaparan jika dia diusik dari dunianya itu.
Aku duduk dipinggir jendela, bisa
dipastikan sekarang aku sedang melihat awan yang seperti permen kapas yang baris-berbaris
mengikuti angin yang membawa mereka terbang jauh. Aku mengantuk. Aku ingin
menutup mataku sebentar saja. Tidur sebentar kan tidak apa-apa. Perlahan awan
yang kulihat semakin menghilang dari pandanganku. Aku kehilangan kesadaranku
secara perlahan--
Aku terus
menatap wajahnya yang terus memandangi papan pengumuman tersebut. Jujur saja
aku akui, lelaki itu… tampan. Lelaki itu memang tampan dengan wajah yang
rupawan, kulitnya putih, dan tinggi yang ideal. Dia, dia menatapku.
“Hey, apa kau baik-baik saja?” dia
menanyakan keadaanku? Aku merasa gugup sekarang, “Ak-aku baik-baik saja.”
Dia tersenyum. Apa dia tersenyum? Dia
memang tersenyum. Tunggu sebentar, apa dia mengejekku? Dia memang tersenyum, tetapi
senyumannya itu… seperti mentertawakanku. “Hey! Apa maksudmu sedang
mengejekku?!” dia senyum semakin lebar. Dia membuatku jengkel. Cukup sudah! Aku
tahu ini didalam mimpi. Jadi, ketika aku membuka kedua mataku dia pasti akan
menghilang.
Dia masih tersenyum, bahkan sekarang dia
sedang menatapku. Apa aku masih bermimpi? Aku akan mengetesnya dengan mencubit
pipiku. “Aww!! Sakit.” Sekarang dia tertawa lepas, aku bahkan dapat mendengar
dengan jelas suara tawanya. Aku pasti terlalu banyak berkhayal! Dan sekarang
aku membayangkannya terlalu berlebihan. Kepalaku menggeleng, dan
“Kau sangat lucu, ya. Hahahaha.” Katanya
dan dia masih saja menatapku.
Ini hanya mimpi kan? Aku meyakinkan hatiku.
Ta-tapi kenapa dia seperti nyata. Sangat nyata, dia memandangku seperti
sungguhan.
“Apa kau nyata?” aku mencoba memegang
tangannya. Tanganku lembut menyentuh kulitnya, dia memang nyata. Tangannya
balik menggenggamku. Sontak aku tersadar, ini memang bukan mimpi. Dengan
gelisah aku menarik kembali tanganku. Aku teringat sesuatu, apa aku tadi
mengatakan hal konyol kepadanya? Dasar bodoh!
“M-maaf.” sangat lirih, aku tak berharap
dia mendengarnya atau tidak.
“Hehehe, Nggak papa, kok.” Dia
mengatakannya sambil memiringkan kepalanya. Seperti adikku. “Namamu siapa?
Namaku, Ryouta Akira”
Ketika dia menanyakan namaku, aku menatap
matanya. “Haruko Kazumi.” Aku menjawabnya dengan cepat dan buru-buru aku
berpaling. Aku kembali menatap ke luar jendela. Abaikan, aku harus
mengabaikannya. Tetapi disaat aku mengabaikannya, wajahnya semakin
terngiang-ngiang dipikiranku. Hal bodoh apa yang telah aku perbuat tadi
didepannya? Memalukan! Aku mencoba menenangkan diriku dengan mengusap lembut
wajahku. Pikiranku sangat tak karuan saat ini. Akan aku ingat-ingat lagi. Tadi,
aku benar-benar tertidur atau aku hanya berhalusinasi? Tanyaku dalam hati. Ekor
mataku mencoba meliriknya. Dan yang membuatku terkejut ialah hingga detik ini
dia masih terus memandangiku. Apa aku sekarang mulai gila?! Ini pasti karena
sinar matahari yang sangat menyengat. Untuk sekarang, yang aku butuhkan
hanyalah segelas air untuk menenangkan pikiranku.
“Hey, Haruko. Apa yang sedang kau
pikirkan?”
Aku terlonjak dari kursiku, tapi aku masih
bisa mengontrol diriku. Dia tadi mengatakan apa?
“Apa yang sedang kau pikirkan?” dia
mengatakan itu dengan pelan seolah mengerti apa yang ada dipikiranku. “Apa kau
selalu bertingkah aneh ketika berkenalan dengan seseorang?”
Apa yang dia katakan tadi, aku bertingkah
aneh? Yang benar saja! Dasar tak tahu sopan santun.
“Hahaha, jangan memandangku saja. Seolah
kau mengatakan aku tak mempuyai sopan santun dengan seseorang yang baru saja
aku kenal namanya.” Mataku membulat, kaget. Dia bisa membaca pikiranku?
“Katakan sesuatu, atau aku terasa seperti orang gila yang sedang bicara sendiri.”
Lanjutnya, dengan tambahan senyum tipis diakhir kalimatnya.
“Tidak. Tidak ada yang sedang aku
pikirkan.”
“Kau ini memang aneh, ya?”
“Oi! Jangan ajak dia bicara, dia memang
aneh dari dulu. Hehehe.” timpal Satomi, dia terkekeh. Seperti mentertawakan
anak kecil yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang mudah. Ternyata sedari tadi
Satomi memperhatikan percakapanku dengan lelaki ini. Bahkan novel yang ia baca
telah tertutup rapi di sudut meja. “Perkenalkan, namaku Satomi Senju. Dia memang
aneh, tetapi dibalik keanehannya itu, dia memiliki otak yang jenius.” ucap
Satomi sembari menunjukkan tangannya kearahku.
.
Satu bulan pun telah berlalu. Hari-hariku
menjadi anak SMA kelas 2 cukup menyita banyak waktuku. Tugas akhir pekan atau
kegiatan klub membuatku menjadi anak yang sok
sibuk. Selama ini, Satomi dan lelaki yang bernama Ryouta itu semakin
bertambah akrab. Seperti minggu lalu, mereka bercerita tentang anime yang akan
dirilis di awal musim dingin nanti. Sekiranya itu yang aku tangkap dari
perbincangan mereka saat itu. Karena entah-mengapa aku sama sekali tak ingin
berinteraksi dengan lelaki itu.
Setiap dia memandangku aku merasa memiliki
penyakit jantung secara mendadak. Walaupun tak sekencang ketika aku dimarahi oleh
ayahku. Tetapi itu cukup membuatku untuk menghindari berinteraksi dengannya.
Setidaknya hanya bertegur sapa, itu lebih dari cukup. Itu pun bertegur sapa
tanpa melihat kedua mata indahnya.
“Ohayou, Haruko,” sapanya dengan senyum
tipis. Yang membuatnya semakin, akh! Aku tak bisa mengatakannya.
“Ohayou,” berhenti memandangku seperti itu.
Lagi-lagi aku harus memalingkan wajahku ke jendela.
“Apa kau sudah mengerjakan PR?”
Dia mencoba membuka percakapan. Padahal aku
sengaja membuang muka. Aku meliriknya dari ekor mataku. Dia sedang mencari
sesuatu dari dalam tasnya. Mengambil sebuah catatan dan meletakkannya diatas
mejaku. Jari panjangnya mencoba mencari halaman yang ia cari. Aku memperhatikan
gerak-geriknya. Aku bahkan belum menjawab pertanyaannya tadi.
“Bisa kau ajari aku? Aku kesulitan dengan
pertanyaan yang ini.” Ujung pulpen yang ia pegang menunjukkan sebaris coretan,
yang aku yakini pertanyaan yang membuatnya kesulitan. “Kata Satomi, kau selalu
mendapat peringkat terbaik.” Tambahnya menatapku tepat di mata. Secepatnya aku
memutuskan kontak mata itu. Tak baik bagi
kesehatanku, jika aku terus ditatap dan menatap matanya yang tegas, begitulah
pikirku.
“Aku masih dalam tahap belajar, kau berlebihan
menilaiku.” Berhenti bicara denganku. Aku ingin memberitahu bagaimana aku menghindari
situasi seperti ini, situasi yang menurutku sangat canggung. Entah, karena aku
yang membuat suasana canggung atau aku yang tidak dapat mengontrol diriku
didepannya. Sekalipun hanya percakapan ringan. Sial!
“Hahaha, kau selalu kaku menilai pujian
orang. Tolonglah, jika kau bersikap seperti itu, maka kau semakin
menyulitkanku.” Selalu, selalu dia dapat membuatku tak dapat menghindari
interaksi ini. Jika aku melontarkan alasan agar terhindar, dia selalu bisa
menahanku agar terus menjawab obrolannya. Menyebalkan!
Aku takkan bisa seperti ini terus.
Menghindari percakapan dengannya adalah prioritasku, karena alasan yang aneh.
Aku harus bisa menyikapinya, walaupun aku tak mengerti dengan apa yang aku
rasakan. Dengan sabar aku mengajarinya soal dari mata pelajaran kimia yang
membuatnya kesulitan. Secepatnya, karena aku tak ingin berlama-lama berhadapan
dengan lelaki ini.
.
.
Satomi datang terlambat, entah ada gerangan
apa yang membuatnya terlambat datang. Jadi, selama pelajaran bahasa Inggris dia
harus merelakan kakinya berdiri selama pelajaran berlangsung. Sepertinya ada
masalah yang sedang Satomi hadapi. Tapi aku enggan bertanya demikian. Aku tahu
suasana hatinya sedang kacau, terlihat jelas diwajahnya yang muram. Biarkan,
karena jika aku menanyakannya saat hatinya tak stabil sama saja aku masuk
kedalam kandang singa. Mungkin setelah pikirannya tenang dia akan menceritakan
semua masalahnya. Begitulah Satomi, sahabat SMA-ku.
Lama aku menunggu Satomi untuk bercerita.
Hingga bel pulang sekolah berbunyi dia tetap membisu. Bukan berarti aku tak
berani menanyakan masalahnya secara frontal. Atau menghibur agar dia sedikit
tertawa dan menghilangkan sedikit bebannya seperti aku mengetahui isi hatinya
melalui mata. Aku bukan seorang cenayang. Hanya saja aku tipe orang yang tidak
tahu harus berbuat apa dan mencairkan suasana dengan mudah. Karena aku bingung
harus melakukan apa sedangkan Satomi diam tak mau bercerita tentang masalahnya.
Aku semakin bingung dengan sikapnya sekarang.
Satomi
memintaku menemaninya ke stasiun. Ada yang harus ia beli di stationery depan stasiun, katanya. Aku
menurut, mungkin dengan menemaninya dia akan menceritakan masalahnya padaku. “Ada
apa?” sebagai sahabat mungkin aku dulu yang harus bertanya keadaanya dan apa
yang sedang mengganggunya. Karena kelihatannya Satomi enggan angkat suara,
menceritakan beban yang sedang ia pikul.
Aku masih menunggunya. Sekilas dia membuka
mulutnya, ingin mengatakan sesuatu. Namun seperti diurungkannya. Dia kembali
menutup mulutnya dan menggeleng pelan. Tidak seperti Satomi yang biasanya. Aku
heran, kenapa dia sama sekali tidak menyuarakan segala keluh kesahnya padaku.
Apa dia sedang kesal padaku? Atau marah padaku?
Aku memang tak pandai merangkai kata. Dan
dengan mudahnya mengucapkan semua akan baik-baik saja, seolah seperti aku
mengetahui isi hatinya. Hey Satomi, katakan sesuatu atau aku akan… entahlah,
aku juga tidak tahu harus melakukan apa. Aku memang payah!
“Tunggu sebentar, aku akan segera kembali.”
ujar Satomi ketika kami sampai di depan halte bus. Aku hanya menaikkan sebelah
alisku. Lalu mengangguk seraya mencari tempat untuk menunggunya. Sikapnya
benar-benar aneh.
Aku menunggunya sembari duduk di halte. Mungkin
hamper setengah jam berlalu dan Satomi belum menampakkan dirinya dihadapanku.
Kemana dia? Apakah aku harus menyusulnya di dalam? Ya, mungki aku harus menyusulnya, pikirku. Lalu aku memberanikan
diriku untuk masuk ke stationery yang
bangunannya cukup unik bagiku dengan sebuah buku besar yang menjadi atap
bangunan tersebut.
“Selamat datang di toko kami, nona. Ada
yang bisa kami bantu?” sapa salah satu pegawai stationery yang sedang berjaga di dekat pintu masuk. Aku
menggelengkan kepalaku untuk memberikan jawaban kepada pegawai tersebut. Aku terus
berjalan dan fokus mencari Satomi. Tanpa memperhatikan yang lainnya. Ekor
mataku fokus berkeliling tempat ini untuk mencari Satomi hingga tiba-tiba ada
seseorang yang tanpa aku sadari telah berada disebelahku dan kini tengah
menyikut lenganku secara terus-menerus.
“Diam!” tanpa sadar aku menyerukan kata
‘diam’ kepada seseorang yang menyikutku itu. Namun, seseorang disampingku ini
terus menyikutku hingga akhirnya pencarianku buyar dan aku menengok sebelahku.
“K-kau?! Kyaaaa!!!” pekikku kaget. Mengapa
aku harus bertemu dengannya disini?! Argh!
“Kau sedang mencari sesuatu? Atau…
seseorang?” tanyanya dengan menatap mataku intens. Aku segera mengalihkan
pandanganku kearah lain.
“Ehm…,” aku menggeleng pelan. Kulihat dia
berdehem lalu tertawa lirih. Apa maksudnya?
Aku bergeming di tempatku berdiri.
Memperhatikan apa yang ingin dia lakukan. Melangkah maju, lalu secepat kilat
dia telah berdiri di depanku. Menduduk dan mendekatkan wajahnya, “Jadi, apa?”
tanyanya pelan. Embusan napasnya menerpa wajahku, kyaa!! Aku langsung mundur,
sudah kupastikan wajahku memerah dan jantungku―akh lagi-lagi seperti biasa,
berdegup dengan cepat. Kuharap dia tidak mendengarnya. Ya Tuhan!
“A-aku sedang mencari Satomi,” jawabku
cepat, “Kau melihatnya?” tanyaku memberanikan diri.
“Tidak.” Dia tegakkan punggungnya, menjauh
dariku. “Aku baru saja datang. Kau butuh bantuan?” tawarnya padaku sembari
melengkungkan bibirnya.
“Tidak, terimakasih.” Pergilah, Ryouta. Aku
tak kuasa menahan rasa gugup ini.
“Baiklah, jika kau tidak butuh bantuan,
karena aku juga hanya akan membeli beberapa keperluan dan pulang.”
Aku tak menjawabnya dan memfokuskan kembali
untuk mencari Satomi di tengah keramaian toko ini. Setelah mengelilingi seluruh
penjuru toko ini, aku pun menyerah. Dan aku bergegas menuju halte. Barangkali
Satomi sudah berada diluar tanpa sepengetahuanku. Dan benar saja, ternyata
Satomi sedang duduk di halte dengan membawa tas belanjanya.
“Aku mencarimu didalam, Satomi. Apakah kau
duduk sudah cukup lama?” Kini aku penuh tanya dan hanya dibalas dengan gelengan
kepala. Hmmm? Cuek sekali Satomi.
Benar tidak seperti biasanya. Aku sudah mencarinya berkeliling didalam dan dia
bersikap dingin padaku. Mungkin saja perasaan Satomi memburuk ketika membeli
alat tulis. Aku harus berpikir positif terhadap sahabatku yang satu ini.
Tak lama, bus tujuan kami pun datang dan
kami bergegas naik. Di perjalanan, tak sepatah kata pun terlontar dari bibir
kami. Aku yang bingung hendak bertanya apa, dan Satomi yang sampai detik ini
enggan menceritakan masalahnya padaku. Mungkin Satomi butuh waktu dan kelak
akan menceritakannya padaku. Bahkan saat Satomi hendak turun dari bus dan
berjalan kerumahnya, ia bahkan tak mengatakan apapun atau sekedar ucapan
‘sampai jumpa lagi’ kepadaku. Ada apa dengannya? Apakah aku memiliki suatu
kesalahan pada Satomi? Atau dia yang sedang menghadapi masalah dan tak mau
menceritakannya padaku?
Daripada memikirkan itu semua, lebih baik
aku bersiap karena rumahku sudah di depan mata. Aku akan memikirkan dan
membahas masalah Satomi nanti.
.
.
.
.
.
.
Goes to chapter 2
AME
note:
Akhirnya… perjuangan selama kurang lebih hampir
setaun chap 1 ini diposting di blog saya, annafebrianda.blogspot.com tentu saja
saya tidak melupakan teman kecil saya : daisukimenma.blogspot.com dengan pen
name “Hime” (ini seperti sebuah paksaan,
karena saya paling anti manggil teman saya dengan sebutan ‘itu’ *bacahime).
Kami membuat ini dengan penuh peluh dan
mata bengkak serta jari keseleo selama berbulan-bulan *LEBAYLU!!!* :v But seriously! Saya dan “Hime” membuat chapter ini
setelah melewati berbagai macam perselisihan dan cerita from our bestfriend. Ide cerita ini udah cukup lama terpikirkan
tapi, membuat 1 chapter aja cukup menyita waktu karena “Hime” sok sibuk dengan dunia nyatanya yang
penuh dengan kegiatan organisasi dan lainnya *alasan!* #bilangajalagimager :p *jujur itu bukan saya yang ngetik,
melainkan teman saya, h-hi-hime*. #uuwah!!memangsulit #jujur #maafkansaya :P
>.<
Tentang inpirasi cerita ini, kami dapatkan
dari salah satu sahabat kami, yang menurut kami kisahnya cukup menarik untuk
dijadikan sebuah cerita yang padahal kami sendiri juga belum mengetahui
bagaimana akhir dari kisahnya. Tapi, dengan modal 2 laptop dan ide-ide aneh,
kami memberanikan diri kami untuk mencoba membuat cerita ini. Dan akhirnya
selesai walau baru 1 chapter. Rencananya setiap chap akan dipost bergantian, semoga
kalian senang membacanya! Kami (Anna&Hime) meminta maaf jika ada kesalahan
kata-kata ataupun typo(s) yang bertebaran dimana-mana. Kami newbie di dunia
blogger. Kami harap kalian para pembaca dapat memberi kritik/pesan/kesan untuk
chapter 1 ini. Arigatou Gozaimasta!!! Jaa nee!! ^-^
13/05/2016
Anna
& Hime,