Hidup memang penuh perjuangan hingga pengorbanan. Lika-liku
penemuan jati diri jadi sasaran utama yang dicari. Sekolah tinggi ditempuh
apalagi sekolah terdasar? Hanya satu
kata yang diambil ‘kesuksesan’.
Mereka mengorbankan waktu demi harapan semu di masa depan.
Dimana masa yang menentukan jadi apa nantinya petualangan pendidikan digunakan.
Belum tentu gelar sarjana bahkan insinyur sekalipun akan sukses, jika Sang
Pemegang Kehendak mengabaikannya.
Buku tebal dengan isi membosankan dijejali untuk bekal di masa
depan. Tulisan, literature, dan apapun yang mendukung suksesnya sesorang di
jalan pendidikan, akan hilang begitu saja jika tidak diterapkan.
Serba-serbi hiasan sepanjang jalan pendidikan. Bahkan
peraturan yang mengatur segala rupa pendidikan dibuat spesial, spesial untuk
para petinggi pemegang dagu.
Ironis, diskriminasi terjadi ketika undang-undang pendidikan
dijunjung tinggi. Yang ‘Berada’ mendapat baris terdepan, lalu yang ‘Tak punya’?
Baris terbelakang? Bahkan jika memang mereka punya harapan.
Ketika si miskin terus menjerit, menyerukan cita-citanya. Sang
Pemegang Dagu hanya memikirkan isi dompet. Kejam? Bahkan makna kata itu mungkin
terlupakan oleh si Terbelakang.
Ketika sejarah proklamasi dikumandangkan. Rasa nasional dan patriotik
telah terkikis oleh persaingan duniawi.
Mereka tak sadar. Bahwa yang terbelakang masih mengangkat
tangan. Masih berlari mengejar barisan terdepan yang mulai hilang menjauh. Bahkan
masih bertahan dengan kondisi buta aksara. Dan akhirnya tertinggal dan
menangis, mengais rasa iba ‘mereka yang tak sadar’.
Yang akhirnya, si Miskin hanya dapat menjual suara melengking
yang serak, mencari sesuap untuk hari ini. Hanya sesuap, syukur selalu terucap
dari bibirnya yang kering. Berbeda dengan si Tikus yang bersanding segala
kemewahan. Kemewahan yang dia curi dari si Miskin.
Berbondong-bondong orang menyerukan keadilan, mengangkat
tinggi spanduk bukti keserakahan, dan mejerit berorasi, di depan gedung belapis
emas penuh kemewahan. Aparat bagaikan bodyguard penjaga burung, yang
seakan-akan terbang menjauh membawa lari gaji mereka.
Apakah ini wajah pendidikan?
Hayoooooo…
Tulisan diatas tidak bermaksud menyinggung, saya hanya ingin
menyampaikan pendapat saya dengan kalimat puitis. Bukan kalimat penuh nilai dan
makna, hanya kalimat sederna nan jelek dari saya.
Semoga kalian terhibur dan mulai bersyukur dari saat ini. Kritik,
saran, dan komentar, jangan lupa! (>.<)v
Anna Febrianda
24/10/2015
JAA NE…
Asiela.blogspot.com
BalasHapusMampir fer 😄
oke sel,
Hapusoke sel,
Hapus