Sabtu, 24 Oktober 2015

Ketika Palu Kehidupan Berbunyi

Hidup memang penuh perjuangan hingga pengorbanan. Lika-liku penemuan jati diri jadi sasaran utama yang dicari. Sekolah tinggi ditempuh apalagi sekolah terdasar?  Hanya satu kata yang diambil ‘kesuksesan’.

Mereka mengorbankan waktu demi harapan semu di masa depan. Dimana masa yang menentukan jadi apa nantinya petualangan pendidikan digunakan. Belum tentu gelar sarjana bahkan insinyur sekalipun akan sukses, jika Sang Pemegang Kehendak mengabaikannya.

Buku tebal dengan isi membosankan dijejali untuk bekal di masa depan. Tulisan, literature, dan apapun yang mendukung suksesnya sesorang di jalan pendidikan, akan hilang begitu saja jika tidak diterapkan.

Serba-serbi hiasan sepanjang jalan pendidikan. Bahkan peraturan yang mengatur segala rupa pendidikan dibuat spesial, spesial untuk para petinggi pemegang dagu.

Ironis, diskriminasi terjadi ketika undang-undang pendidikan dijunjung tinggi. Yang ‘Berada’ mendapat baris terdepan, lalu yang ‘Tak punya’? Baris terbelakang? Bahkan jika memang mereka punya harapan.

Ketika si miskin terus menjerit, menyerukan cita-citanya. Sang Pemegang Dagu hanya memikirkan isi dompet. Kejam? Bahkan makna kata itu mungkin terlupakan oleh si Terbelakang.

Ketika sejarah proklamasi dikumandangkan. Rasa nasional dan patriotik telah terkikis oleh persaingan duniawi.

Mereka tak sadar. Bahwa yang terbelakang masih mengangkat tangan. Masih berlari mengejar barisan terdepan yang mulai hilang menjauh. Bahkan masih bertahan dengan kondisi buta aksara. Dan akhirnya tertinggal dan menangis, mengais rasa iba ‘mereka yang tak sadar’.

Yang akhirnya, si Miskin hanya dapat menjual suara melengking yang serak, mencari sesuap untuk hari ini. Hanya sesuap, syukur selalu terucap dari bibirnya yang kering. Berbeda dengan si Tikus yang bersanding segala kemewahan. Kemewahan yang dia curi dari si Miskin.

Berbondong-bondong orang menyerukan keadilan, mengangkat tinggi spanduk bukti keserakahan, dan mejerit berorasi, di depan gedung belapis emas penuh kemewahan. Aparat bagaikan bodyguard penjaga burung, yang seakan-akan terbang menjauh membawa lari gaji mereka.

Apakah ini wajah pendidikan?

Hayoooooo…
Tulisan diatas tidak bermaksud menyinggung, saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya dengan kalimat puitis. Bukan kalimat penuh nilai dan makna, hanya kalimat sederna nan jelek dari saya.
Semoga kalian terhibur dan mulai bersyukur dari saat ini. Kritik, saran, dan komentar, jangan lupa! (>.<)v
Anna Febrianda
24/10/2015

JAA NE… 

Jumat, 16 Oktober 2015

Kisah Cinta

Taliku telah putus , dipotong olehnya. Sakit lara kurasa dihati biru yang membeku karena balasanmu yang begitu tajam. Ketika engkau pilih jabatan daripada amal, kau pilih nama daripada orang yang tak punya asal, kata orang. Inikah janjimu yang kau kata tak mungkin kau dustai itu? Benarkah ini sumpahmu di tasik saat sore yang indah menyapa mata?

Kau, sungguh kejam!

Cintaku kau kubur, kau kubur dalam hingga sisapun tak nampak di mata. Sedih hati aku. Ketika kau bergandeng dengan orang punya nama, punya duit, dan punya asal.

Tak ku larutkan rasa kalut ini terus didada yang sesak. Akan kututup rapat rasa cinta ini. Berlarut membuatku semakin terpuruk. Beban cinta dan wanita tak kupanggul lagi, melainkan kubuang di kubur cinta yang kau buat dengan tanganmu.

Disaat kucoba hilangkan bayang hitam wajahmu. Kau datang kepadaku. Hatiku kubuat tegar, kubuat kuat dan kubuat siap.

Semua rahasia terungkap. Di depanmu, hadapanmu, dan engkau lihat. Aku kalut. Kau tersimpuh tak berkata. Ku teriak membawa hatimu pulang. 

Akupun tak peduli. Ego ku kuat tak terkalahkan dengan ketentraman kalbu.

Tersadarlah ku dari lamunan ego. Ku ikat lagi tali yang putus itu. Kau tak lagi berayun disana. Kalbuku tertancap duri. Mendengar kau tiada ketika ku sadar.

Kasih… tak kurela lembaran kisah cinta ini tertutup tanpa sentuhmu yang lembut.


Kisahku yang kehilangan peranmu…



Catatan Anna:

Saya sangat mengharapkan kritik, saran, dan komentarnya. Tolong tinggalkan pesan dan kesan (CvC)v

Arigatau Gozaimasu…