Kamis, 12 Mei 2016

Chapter 1: PERTEMUAN ~ LOST

Lost
.
.
.
.
.
.
.
Story © Anna Febrianda and Daisuki Menma
Inspiration by Our Best Friend
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 1: PERTEMUAN
.
.
.
.
.
ENJOY!
READING…
.
.
.
.
.
Kisah yang takkan terlupakan bagiku. Sekalipun aku ingin semua kenangan itu menghilang dari ingatanku.
Aku berharap jalan yang telah aku pilih ini, takkan sia-sia. Ataupun menyesal karena aku telah memilihnya.
Aku selalu berdoa, semoga kalian akan bahagia.
.
.
.
.
.
.
Pagi yang cerah dengan temperatur udara yang cukup panas, dan segelintir orang yang terlihat kesibukannya ketika para burung berseru senang. Orang-orang itu mempunyai alasan untuk mondar-mandir berkeliling dari gedung utama hingga ke ruang kelas. Kini aku sedang menunggu selembar kertas yang seharusnya telah tertempel pada sebuah papan yang berjudul pengumuman sejak satu jam yang lalu.

          Pada hari ini, seharusnya aku telah mengetahui dimana kelas baruku setelah perjuangan kerasku yang berkutat dengan buku yang sangat tebal. Setelah cukup lama menunggu, seorang guru berwajah tegas menempelkan beberapa lembar kertas pada papan pengumuman yang berisi daftar nama siswa kelas XI. Aku tak tahu seberapa menariknya guru itu sehingga dia harus dikerumuni berpuluh bahkan beratus siswa yang mempunyai hasrat ingin tahu itu.

          Aku kini harus menunggu lagi hingga papan pengumuman itu tidak lagi menjadi pusat perhatian para siswa. Setelah kebahagiaan dan kesedihan para siswa yang telah melihat kelas baru mereka, aku mencoba memberanikan diri melihat lembaran kertas yang terpampang di papan pengumuman itu. Mataku menyapu dari daftar nama kelas XI.1. Hingga akhirnya, ketemu! Itu namaku Haruko Kazumi pada nomor urut 16 dan selama setahun kedepan, aku harus tinggal di kelas XI.4. Setelah mengetahui keberadaan kelasku, tak ada lagi yang menarik di papan pengumuman ini. Sekarang, aku hanya harus menemukan ruangan kelasku yang baru.

          Ketika aku memutar bahuku dan mulai melangkahkan kakiku, seorang lelaki membuatku terpukau. Lelaki itu… berdiri tepat dibelakangku… tetapi, ekor matanya terfokus pada papan pengumuman disana, bukan diriku yang tepat berdiri di hadapannya. Untuk beberapa detik, aku terus menatap wajahnya yang terus memandangi papan pengumuman tersebut. Jujur saja aku akui, lelaki itu… tampan. Lelaki itu memang tampan dengan wajahnya yang rupawan, kulitnya putih, dan tinggi yang ideal. Kesan pertama yang sungguh mengesankan. Dari hadapannya ini aku dapat melihat wajahnya yang sangat fokus, matanya yang hitam legam menenangkan, rambutnya yang entah mengapa begitu memukau disaat semilir angin lewat dan membuat rambut indahnya itu melambai. Ah, andai saja jika tangannya yang melambai kepadaku, bukan hanya rambutnya. Setelah aku mengagumi wajah rupawannya, aku menundukkan kepalaku dan pergi menjauh dari tempatku berdiri.

.
.

Berjalan sendiri dengan gema sepatu yang melantunkan melodi tersendiri bagiku, setidaknya tidak terjadi kesunyian di sepanjang lorong ini. Tidak ada yang spesial dengan kelas baruku, hanya saja sahabat terbaikku berada di kelas yang sama dengan diriku. Aku bersyukur karena bisa memiliki teman mengobrol untuk setahun kedepan. Setelah menulis jadwal mata pelajaran aku bergegas pulang. Tetapi keberuntungan memang tidak sedang menyelimutiku hari ini. Aku harus pulang terlambat karena suatu hambatan yang merepotkan. Seorang guru menyuruhku memberikan sebuah berkas ke kantor Kepala Sekolah. Dimana ruangan tersebut ada di bangunan A sedangkan kelasku berada di bangunan C, yang artinya ruangan tersebut jauh. Sangat jauh. Belum lagi aku harus berjalan seorang diri di tengah-tengah lapangan serbaguna yang kau-bisa-membayangkannya-sendiri.

Dari ekor mataku, hanya segelintir orang yang masih berada di kawasan sekolah. Bahkan masih ada yang mempromosikan klub mereka kepada anak kelas satu. Aku masih ingat, ketika dimana aku dikerubungi begitu banyak senior dengan semangatnya yang membara untuk mempromosikan klub mereka. Saat itu aku sampai kewalahan, dan untung saja ada dia. Sahabatku. Dan sebagian tengah menunggu tumpangan untuk pulang ke rumah.

Sesampainya di halte depan sekolah, aku memilih menyendiri, duduk di pojok halte. Lagipula tidak ada yang kukenal. Sepertinya mereka anak kelas satu. Pikiranku melayang, masih terngiang jelas rupa wajah lelaki itu. Bibirku tanpa perintah, melengkung membuat senyum tipis mengingatnya. Wajahnya, hidungnya yang mancung, dan postur tubuhnya yang tegap itu. ‘Tidak!! Ku gelengkan kepalaku cepat, pikiranku akan kosong jika hanya lelaki itu yang ku ingat hari ini’ kilahku dalam hati.

Tak lama sebuah bus berhenti dan mengumumkan tujuannya. Aku lekas berdiri dan masuk ke dalam bus. Tidak sampai setengah jam bus berhenti di sebuah halte yang tampak usang termakan usia. Aku turun setelah memberi ongkos pada petugas bus.

Rumahku yang dikelilingi hamparan sawah dan perkebunan, membuatku tak bosan tinggal disini. Bonusnya tidak terdapat kebisingan para pengguna kendaraan. Sebuah desa yang asri dan aku bersyukur tinggal disini. Ayahku seorang petani yang hebat, itu pendapatku, karena semua yang dikerjakan ayahku dengan usaha dan tidak pernah mengeluh. Ayahku pernah berkata, “Jadilah orang jujur dan tak pernah mengeluh menghadapi cobaan”. Itu adalah kata-kata ayah yang selalu aku ingat dan aku gunakan sebagai kata-kata penyemangat hidupku dalam menghadapi masalah. Ibuku adalah seorang yang ramah, aku menyayanginya dan sangat menyayanginya. Ibuku adalah senyuman ayah, mereka pasangan serasi walaupun terkadang ayah mengejek kebodohan ibu tentang wawasannya yang sempit. Dan juga aku memiliki adik kembar laki-laki, Masahiko dan Masahiro, kusebut mereka dengan si kembar yang nakal. Mereka kembar identik, kukira meskipun mereka kembar sifat mereka akan berbeda karena mereka adalah dua individu yang berbeda, yang sama hanyalah wajahnya. Tetapi sifat mereka benar-benar kembar jahil, usil, dan menyebalkan. Aku tidak membenci mereka, bagaimanapun mereka adalah adik kembarku.

“Aku pulang~” seruku seraya melepaskan sepatu sekolahku. Aku mendengar sedikit kegaduhan dari dalam rumah, pasti si kembar. Mereka tidak pernah diam sedetikpun kecuali ketika mereka sedang tertidur. “Selamat datang, sayang. Masahiko, Masahiro, berhenti membuat rumah seperti kapal pecah!” kata ibuku yang masih membawa sebuah penggorengan, sepertinya ibu akan memasak sesuatu yang lezat. Aku naik kelantai dua dan masuk kekamarku yang nyaman. Aku tidak sedang ingin mengajak si kembar berkelahi dengan menumbalkan diriku yang ingin menonton televisi di ruang tengah. Aku tak tahu jika menunggu papan pengumuman sampai membuatku pegal-pegal. Jadi yang kulakukan mengistirahatkan tubuhku dengan berbaring diranjang sambil menunggu jam makan siang.

Ketika aku memutar bahuku dan mulai melangkahkan kakiku, seorang lelaki membuatku terpukau. Lelaki itu… berdiri tepat dibelakangku. Tetapi, ekor matanya terfokus pada papan pengumuman disana, bukan diriku yang tepat berdiri di hadapannya. Untuk beberapa detik, aku terus menatap wajahnya yang terus memandangi papan pengumuman tersebut. Jujur saja aku akui, lelaki itu… tampan. Aku tidak mengerti kenapa aku terus mengingat kejadian tadi pagi, kurasa kini pipiku mengeluarkan semburat merah. Aku juga tidak mengerti perasaan yag sedang kurasakan ini. Ketika aku berhadapan dengannya aku merasa gugup dan tak dapat mengontrol mataku yang terus saja melihat wajahnya. Seketika aku tersadar dengan khayalanku, sebuah suara menyadarkanku. “Haruko, saatnya makan siang sayang. Cepatlah turun!” ternyata ibu memanggilku. “Iya, aku akan turun.”

“Bagaimana dengan kelas barumu?” ibu bertanya sambil menyiapkan piring dimeja makan, tapi tidak kubiarkan ibu menyiapkannya sendirian. Aku hanya tersenyum menanggapinya, dan mengatakan tidak ada yang spesial dengan kelas baruku. Kecuali Satomi Senju yang berada di kelas yang sama denganku lagi. Ayah datang dengan wajah letihnya, dia segera menuju kemeja makan, mungkin ayah tak sabar ingin memakan masakan ibu yang lezat. Belum sempat ayah menarik kursinya untuk duduk, ibu mengusir ayah sebelum mendekati dapurnya yang bersih. Mungkin keberuntungan tidak bersamamu, ayah. Ibu menyuruh ayah membersihkan badannya sebelum makan siang, aku hanya tertawa menanggapi ekspresi lucu ayah karena mungkin ayah tak sabar mengisi tenaganya lagi atau perutnya yang buncit itu. Dan si kembar telah duduk manis dikursi mereka, wajah mereka sepertinya tidak sabar menyantap makan siang. Dasar anak kecil.

Kali ini ibu memasak udang, kesukaan si kembar, lihat! mereka berdua kembali ribut dengan mulut penuh dengan nasi, memperebutkan udang goreng yang tinggal satu itu. Agar adil ibu membaginya menjadi dua, adik kembarku memang lucu. Walaupun ibu telah membaginya, si kembar tetap saja berseteru. Untuk kesekian kali ibu melerai mereka.

“Bagaimana dengan kelas barumu, Haru-chan?” tanya ayah ketika makan siang selesai.

“Tidak ada yang spesial, dan aku kembali bersama dengan Satomi.”

“Kau pasti senang karena sekelas dengan temanmu lagi.”

Aku hanya tersenyum menjawabnya, memang tidak ada yang spesial. Atau mungkin belum aku rasakan…

.
.

Bel sekolah berdentang dan menggema di seluruh penjuru. Kapan terakhir kali aku mendengar bel itu dibunyikan? Mungkin sudah sangat lama, ketika aku kelas satu. Sepertinya listrik dipadamkan, karena tidak biasanya penjaga sekolah bersusah payah memukul bel itu. Jaman memang semakin modern, bel saja telah tergantikan dengan bel otomatis yang telah disetting sebelumnya melalui komputer.

Rasanya benar-benar lelah mendengar guru sejarah berbicara panjang lebar di depan kelas. Aku duduk di sebelah Satomi. Lagi-lagi dia tetap terlihat semangat. Aku ingin tahu apa yang membuatnya bersemangat seperti itu. Pantas saja dia tidak merasa bosan ataupun mengantuk tadi, dia sedang asik dengan dunianya sendiri. Membaca novel. Dia sangat suka membaca, apapun yang membuatnya tertarik. Daripada aku mengganggunya, lebih baik aku menyenderkan kepalaku diatas meja. Karena aku tidak mau berurusan dengan macan yang sedang tidur disebelahku ini. Satomi akan seperti seekor macan yang kelaparan jika dia diusik dari dunianya itu.

Aku duduk dipinggir jendela, bisa dipastikan sekarang aku sedang melihat awan yang seperti permen kapas yang baris-berbaris mengikuti angin yang membawa mereka terbang jauh. Aku mengantuk. Aku ingin menutup mataku sebentar saja. Tidur sebentar kan tidak apa-apa. Perlahan awan yang kulihat semakin menghilang dari pandanganku. Aku kehilangan kesadaranku secara perlahan--

Aku terus menatap wajahnya yang terus memandangi papan pengumuman tersebut. Jujur saja aku akui, lelaki itu… tampan. Lelaki itu memang tampan dengan wajah yang rupawan, kulitnya putih, dan tinggi yang ideal. Dia, dia menatapku.

“Hey, apa kau baik-baik saja?” dia menanyakan keadaanku? Aku merasa gugup sekarang, “Ak-aku baik-baik saja.”

Dia tersenyum. Apa dia tersenyum? Dia memang tersenyum. Tunggu sebentar, apa dia mengejekku? Dia memang tersenyum, tetapi senyumannya itu… seperti mentertawakanku. “Hey! Apa maksudmu sedang mengejekku?!” dia senyum semakin lebar. Dia membuatku jengkel. Cukup sudah! Aku tahu ini didalam mimpi. Jadi, ketika aku membuka kedua mataku dia pasti akan menghilang.

Dia masih tersenyum, bahkan sekarang dia sedang menatapku. Apa aku masih bermimpi? Aku akan mengetesnya dengan mencubit pipiku. “Aww!! Sakit.” Sekarang dia tertawa lepas, aku bahkan dapat mendengar dengan jelas suara tawanya. Aku pasti terlalu banyak berkhayal! Dan sekarang aku membayangkannya terlalu berlebihan. Kepalaku menggeleng, dan

“Kau sangat lucu, ya. Hahahaha.” Katanya dan dia masih saja menatapku.

Ini hanya mimpi kan? Aku meyakinkan hatiku. Ta-tapi kenapa dia seperti nyata. Sangat nyata, dia memandangku seperti sungguhan.

“Apa kau nyata?” aku mencoba memegang tangannya. Tanganku lembut menyentuh kulitnya, dia memang nyata. Tangannya balik menggenggamku. Sontak aku tersadar, ini memang bukan mimpi. Dengan gelisah aku menarik kembali tanganku. Aku teringat sesuatu, apa aku tadi mengatakan hal konyol kepadanya? Dasar bodoh!

“M-maaf.” sangat lirih, aku tak berharap dia mendengarnya atau tidak.

“Hehehe, Nggak papa, kok.” Dia mengatakannya sambil memiringkan kepalanya. Seperti adikku. “Namamu siapa? Namaku, Ryouta Akira”

Ketika dia menanyakan namaku, aku menatap matanya. “Haruko Kazumi.” Aku menjawabnya dengan cepat dan buru-buru aku berpaling. Aku kembali menatap ke luar jendela. Abaikan, aku harus mengabaikannya. Tetapi disaat aku mengabaikannya, wajahnya semakin terngiang-ngiang dipikiranku. Hal bodoh apa yang telah aku perbuat tadi didepannya? Memalukan! Aku mencoba menenangkan diriku dengan mengusap lembut wajahku. Pikiranku sangat tak karuan saat ini. Akan aku ingat-ingat lagi. Tadi, aku benar-benar tertidur atau aku hanya berhalusinasi? Tanyaku dalam hati. Ekor mataku mencoba meliriknya. Dan yang membuatku terkejut ialah hingga detik ini dia masih terus memandangiku. Apa aku sekarang mulai gila?! Ini pasti karena sinar matahari yang sangat menyengat. Untuk sekarang, yang aku butuhkan hanyalah segelas air untuk menenangkan pikiranku.

“Hey, Haruko. Apa yang sedang kau pikirkan?”

Aku terlonjak dari kursiku, tapi aku masih bisa mengontrol diriku. Dia tadi mengatakan apa?

“Apa yang sedang kau pikirkan?” dia mengatakan itu dengan pelan seolah mengerti apa yang ada dipikiranku. “Apa kau selalu bertingkah aneh ketika berkenalan dengan seseorang?”

Apa yang dia katakan tadi, aku bertingkah aneh? Yang benar saja! Dasar tak tahu sopan santun.

“Hahaha, jangan memandangku saja. Seolah kau mengatakan aku tak mempuyai sopan santun dengan seseorang yang baru saja aku kenal namanya.” Mataku membulat, kaget. Dia bisa membaca pikiranku? “Katakan sesuatu, atau aku terasa seperti orang gila yang sedang bicara sendiri.” Lanjutnya, dengan tambahan senyum tipis diakhir kalimatnya.

“Tidak. Tidak ada yang sedang aku pikirkan.”

“Kau ini memang aneh, ya?”

“Oi! Jangan ajak dia bicara, dia memang aneh dari dulu. Hehehe.” timpal Satomi, dia terkekeh. Seperti mentertawakan anak kecil yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang mudah. Ternyata sedari tadi Satomi memperhatikan percakapanku dengan lelaki ini. Bahkan novel yang ia baca telah tertutup rapi di sudut meja. “Perkenalkan, namaku Satomi Senju. Dia memang aneh, tetapi dibalik keanehannya itu, dia memiliki otak yang jenius.” ucap Satomi sembari menunjukkan tangannya kearahku.

.
.

Satu bulan pun telah berlalu. Hari-hariku menjadi anak SMA kelas 2 cukup menyita banyak waktuku. Tugas akhir pekan atau kegiatan klub membuatku menjadi anak yang sok sibuk. Selama ini, Satomi dan lelaki yang bernama Ryouta itu semakin bertambah akrab. Seperti minggu lalu, mereka bercerita tentang anime yang akan dirilis di awal musim dingin nanti. Sekiranya itu yang aku tangkap dari perbincangan mereka saat itu. Karena entah-mengapa aku sama sekali tak ingin berinteraksi dengan lelaki itu.

Setiap dia memandangku aku merasa memiliki penyakit jantung secara mendadak. Walaupun tak sekencang ketika aku dimarahi oleh ayahku. Tetapi itu cukup membuatku untuk menghindari berinteraksi dengannya. Setidaknya hanya bertegur sapa, itu lebih dari cukup. Itu pun bertegur sapa tanpa melihat kedua mata indahnya.

“Ohayou, Haruko,” sapanya dengan senyum tipis. Yang membuatnya semakin, akh! Aku tak bisa mengatakannya.

“Ohayou,” berhenti memandangku seperti itu. Lagi-lagi aku harus memalingkan wajahku ke jendela.

“Apa kau sudah mengerjakan PR?”

Dia mencoba membuka percakapan. Padahal aku sengaja membuang muka. Aku meliriknya dari ekor mataku. Dia sedang mencari sesuatu dari dalam tasnya. Mengambil sebuah catatan dan meletakkannya diatas mejaku. Jari panjangnya mencoba mencari halaman yang ia cari. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Aku bahkan belum menjawab pertanyaannya tadi.

“Bisa kau ajari aku? Aku kesulitan dengan pertanyaan yang ini.” Ujung pulpen yang ia pegang menunjukkan sebaris coretan, yang aku yakini pertanyaan yang membuatnya kesulitan. “Kata Satomi, kau selalu mendapat peringkat terbaik.” Tambahnya menatapku tepat di mata. Secepatnya aku memutuskan kontak mata itu. Tak baik bagi kesehatanku, jika aku terus ditatap dan menatap matanya yang tegas, begitulah pikirku.

“Aku masih dalam tahap belajar, kau berlebihan menilaiku.” Berhenti bicara denganku. Aku ingin memberitahu bagaimana aku menghindari situasi seperti ini, situasi yang menurutku sangat canggung. Entah, karena aku yang membuat suasana canggung atau aku yang tidak dapat mengontrol diriku didepannya. Sekalipun hanya percakapan ringan. Sial!

“Hahaha, kau selalu kaku menilai pujian orang. Tolonglah, jika kau bersikap seperti itu, maka kau semakin menyulitkanku.” Selalu, selalu dia dapat membuatku tak dapat menghindari interaksi ini. Jika aku melontarkan alasan agar terhindar, dia selalu bisa menahanku agar terus menjawab obrolannya. Menyebalkan!

Aku takkan bisa seperti ini terus. Menghindari percakapan dengannya adalah prioritasku, karena alasan yang aneh. Aku harus bisa menyikapinya, walaupun aku tak mengerti dengan apa yang aku rasakan. Dengan sabar aku mengajarinya soal dari mata pelajaran kimia yang membuatnya kesulitan. Secepatnya, karena aku tak ingin berlama-lama berhadapan dengan lelaki ini.

.
.

Satomi datang terlambat, entah ada gerangan apa yang membuatnya terlambat datang. Jadi, selama pelajaran bahasa Inggris dia harus merelakan kakinya berdiri selama pelajaran berlangsung. Sepertinya ada masalah yang sedang Satomi hadapi. Tapi aku enggan bertanya demikian. Aku tahu suasana hatinya sedang kacau, terlihat jelas diwajahnya yang muram. Biarkan, karena jika aku menanyakannya saat hatinya tak stabil sama saja aku masuk kedalam kandang singa. Mungkin setelah pikirannya tenang dia akan menceritakan semua masalahnya. Begitulah Satomi, sahabat SMA-ku.

Lama aku menunggu Satomi untuk bercerita. Hingga bel pulang sekolah berbunyi dia tetap membisu. Bukan berarti aku tak berani menanyakan masalahnya secara frontal. Atau menghibur agar dia sedikit tertawa dan menghilangkan sedikit bebannya seperti aku mengetahui isi hatinya melalui mata. Aku bukan seorang cenayang. Hanya saja aku tipe orang yang tidak tahu harus berbuat apa dan mencairkan suasana dengan mudah. Karena aku bingung harus melakukan apa sedangkan Satomi diam tak mau bercerita tentang masalahnya. Aku semakin bingung dengan sikapnya sekarang.

Satomi memintaku menemaninya ke stasiun. Ada yang harus ia beli di stationery depan stasiun, katanya. Aku menurut, mungkin dengan menemaninya dia akan menceritakan masalahnya padaku. “Ada apa?” sebagai sahabat mungkin aku dulu yang harus bertanya keadaanya dan apa yang sedang mengganggunya. Karena kelihatannya Satomi enggan angkat suara, menceritakan beban yang sedang ia pikul.

Aku masih menunggunya. Sekilas dia membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu. Namun seperti diurungkannya. Dia kembali menutup mulutnya dan menggeleng pelan. Tidak seperti Satomi yang biasanya. Aku heran, kenapa dia sama sekali tidak menyuarakan segala keluh kesahnya padaku. Apa dia sedang kesal padaku? Atau marah padaku?

Aku memang tak pandai merangkai kata. Dan dengan mudahnya mengucapkan semua akan baik-baik saja, seolah seperti aku mengetahui isi hatinya. Hey Satomi, katakan sesuatu atau aku akan… entahlah, aku juga tidak tahu harus melakukan apa. Aku memang payah!

“Tunggu sebentar, aku akan segera kembali.” ujar Satomi ketika kami sampai di depan halte bus. Aku hanya menaikkan sebelah alisku. Lalu mengangguk seraya mencari tempat untuk menunggunya. Sikapnya benar-benar aneh.

Aku menunggunya sembari duduk di halte. Mungkin hamper setengah jam berlalu dan Satomi belum menampakkan dirinya dihadapanku. Kemana dia? Apakah aku harus menyusulnya di dalam? Ya, mungki aku harus menyusulnya, pikirku. Lalu aku memberanikan diriku untuk masuk ke stationery yang bangunannya cukup unik bagiku dengan sebuah buku besar yang menjadi atap bangunan tersebut.

“Selamat datang di toko kami, nona. Ada yang bisa kami bantu?” sapa salah satu pegawai stationery yang sedang berjaga di dekat pintu masuk. Aku menggelengkan kepalaku untuk memberikan jawaban kepada pegawai tersebut. Aku terus berjalan dan fokus mencari Satomi. Tanpa memperhatikan yang lainnya. Ekor mataku fokus berkeliling tempat ini untuk mencari Satomi hingga tiba-tiba ada seseorang yang tanpa aku sadari telah berada disebelahku dan kini tengah menyikut lenganku secara terus-menerus.

“Diam!” tanpa sadar aku menyerukan kata ‘diam’ kepada seseorang yang menyikutku itu. Namun, seseorang disampingku ini terus menyikutku hingga akhirnya pencarianku buyar dan aku menengok sebelahku.

“K-kau?! Kyaaaa!!!” pekikku kaget. Mengapa aku harus bertemu dengannya disini?! Argh!

“Kau sedang mencari sesuatu? Atau… seseorang?” tanyanya dengan menatap mataku intens. Aku segera mengalihkan pandanganku kearah lain.

“Ehm…,” aku menggeleng pelan. Kulihat dia berdehem lalu tertawa lirih. Apa maksudnya?

Aku bergeming di tempatku berdiri. Memperhatikan apa yang ingin dia lakukan. Melangkah maju, lalu secepat kilat dia telah berdiri di depanku. Menduduk dan mendekatkan wajahnya, “Jadi, apa?” tanyanya pelan. Embusan napasnya menerpa wajahku, kyaa!! Aku langsung mundur, sudah kupastikan wajahku memerah dan jantungku―akh lagi-lagi seperti biasa, berdegup dengan cepat. Kuharap dia tidak mendengarnya. Ya Tuhan!

“A-aku sedang mencari Satomi,” jawabku cepat, “Kau melihatnya?” tanyaku memberanikan diri.

“Tidak.” Dia tegakkan punggungnya, menjauh dariku. “Aku baru saja datang. Kau butuh bantuan?” tawarnya padaku sembari melengkungkan bibirnya.

“Tidak, terimakasih.” Pergilah, Ryouta. Aku tak kuasa menahan rasa gugup ini.

“Baiklah, jika kau tidak butuh bantuan, karena aku juga hanya akan membeli beberapa keperluan dan pulang.”

Aku tak menjawabnya dan memfokuskan kembali untuk mencari Satomi di tengah keramaian toko ini. Setelah mengelilingi seluruh penjuru toko ini, aku pun menyerah. Dan aku bergegas menuju halte. Barangkali Satomi sudah berada diluar tanpa sepengetahuanku. Dan benar saja, ternyata Satomi sedang duduk di halte dengan membawa tas belanjanya.

“Aku mencarimu didalam, Satomi. Apakah kau duduk sudah cukup lama?” Kini aku penuh tanya dan hanya dibalas dengan gelengan kepala. Hmmm? Cuek sekali Satomi. Benar tidak seperti biasanya. Aku sudah mencarinya berkeliling didalam dan dia bersikap dingin padaku. Mungkin saja perasaan Satomi memburuk ketika membeli alat tulis. Aku harus berpikir positif terhadap sahabatku yang satu ini.

Tak lama, bus tujuan kami pun datang dan kami bergegas naik. Di perjalanan, tak sepatah kata pun terlontar dari bibir kami. Aku yang bingung hendak bertanya apa, dan Satomi yang sampai detik ini enggan menceritakan masalahnya padaku. Mungkin Satomi butuh waktu dan kelak akan menceritakannya padaku. Bahkan saat Satomi hendak turun dari bus dan berjalan kerumahnya, ia bahkan tak mengatakan apapun atau sekedar ucapan ‘sampai jumpa lagi’ kepadaku. Ada apa dengannya? Apakah aku memiliki suatu kesalahan pada Satomi? Atau dia yang sedang menghadapi masalah dan tak mau menceritakannya padaku?

Daripada memikirkan itu semua, lebih baik aku bersiap karena rumahku sudah di depan mata. Aku akan memikirkan dan membahas masalah Satomi nanti.

.                                                                                                                           
.
.
.
.
.
Goes to chapter 2


AME note:
Akhirnya… perjuangan selama kurang lebih hampir setaun chap 1 ini diposting di blog saya, annafebrianda.blogspot.com tentu saja saya tidak melupakan teman kecil saya : daisukimenma.blogspot.com dengan pen name “Hime” (ini seperti sebuah paksaan, karena saya paling anti manggil teman saya dengan sebutan ‘itu’ *bacahime).
Kami membuat ini dengan penuh peluh dan mata bengkak serta jari keseleo selama berbulan-bulan *LEBAYLU!!!* :v But seriously! Saya dan “Hime” membuat chapter ini setelah melewati berbagai macam perselisihan dan cerita from our bestfriend. Ide cerita ini udah cukup lama terpikirkan tapi, membuat 1 chapter aja cukup menyita waktu karena “Hime” sok sibuk dengan dunia nyatanya yang penuh dengan kegiatan organisasi dan lainnya *alasan!* #bilangajalagimager :p *jujur itu bukan saya yang ngetik, melainkan teman saya, h-hi-hime*.  #uuwah!!memangsulit #jujur #maafkansaya :P >.<
Tentang inpirasi cerita ini, kami dapatkan dari salah satu sahabat kami, yang menurut kami kisahnya cukup menarik untuk dijadikan sebuah cerita yang padahal kami sendiri juga belum mengetahui bagaimana akhir dari kisahnya. Tapi, dengan modal 2 laptop dan ide-ide aneh, kami memberanikan diri kami untuk mencoba membuat cerita ini. Dan akhirnya selesai walau baru 1 chapter. Rencananya setiap chap akan dipost bergantian, semoga kalian senang membacanya! Kami (Anna&Hime) meminta maaf jika ada kesalahan kata-kata ataupun typo(s) yang bertebaran dimana-mana. Kami newbie di dunia blogger. Kami harap kalian para pembaca dapat memberi kritik/pesan/kesan untuk chapter 1 ini. Arigatou Gozaimasta!!! Jaa nee!! ^-^

13/05/2016

Anna & Hime,